
Bapak begitu aku biasa memanggil ayahku tercinta, dia adalah orang yang sangat aku cintai, dialah yang mengajariku tetang hidup dengan beragama, tentang kesederhanaan dan dia sangat mencintai kami anak-anaknya. Dia hampir tidak pernah marah, kalau bapak sudah marah berarti aku emang udah kelewat nakal (hmmm aku mulai nangis). Bapak adalah seorang pekerja keras, semua di lakukannya agar anaknya bahagia, sampai dia mengabaikan kebahagiaan hidupnya sendiri, hanya untuk membahagiakan kami anak-ankanya. Bapakku orang yang baik tidak hanya kepada kami anak-anaknya, tetapi kepada semua orang, tidak ada yang tidak mengenal kebaikannya, bapak tidak pernah sedikitpun lupa untuk berzakat, beramal dan berbagi rezeki kepada mereka yang kurang beruntung dari kami, kebahagiaan bagi bapak adalah apabila dia dapat membahagiakan orang lain.
Saat itu tanggal 28 Oktober 2011, pagi itu seperti biasa bapak pergi dinas, bapak masih sehat. Siangnya bapak masi nelpon aku, masih ngobrol. Aku tetap menjalankan hari-hariku seperti biasa tidak ada yang aneh dan tidak ada pertanda. Malam itu bapak masih belum pulang dan aku mulai cemas dan malam jam 22.00 WIB aku mendapat kabar buruk, hari itu seperti duniaku menjadi gelap, aku merasa ini mimpi yang benar-benar buruk, terburuk dari yang paling buruk. Aku kehilangan seorang yang aku cintai, kehilangan sosok ayah kehilangan pahlawan, mimpiku hilang seketika, mimpiku untuk bapak melihat aku sukses, mimpi untuk menikahkan aku dan menggendong cucunya. Aku tidak bisa menggambarkan betapa sedih dan terpuruknya aku saati itu. Semenjak saat itu aku berjanji kepada diri sendir bahwa aku anakmu ingin menjadi anak yang bisa membahagiakanmu, bisa menolongmu, aku ingin menjadi anak yang sholeh, karna doa seorang anak yang sholehlah yang di terima untuk mendoakanmu bapak. Percayalah bahwa bapak tidak akan sia-sia membesarkan anak gadismu ini, mendidiknya dan kini aku menjadi pribadi yang lebih tangguh.